Ketika Bung Hatta Menyaksikan Luka Garut Akibat Konflik DI/TII
GARUT – Di tengah berkecamuknya konflik antara pemerintah Republik Indonesia dan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Wakil Presiden Mohammad Hatta pernah melakukan kunjungan ke Kabupaten Garut untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak perang.
Kunjungan tersebut menjadi yang pertama bagi Bung Hatta setelah sekitar tiga tahun tidak menginjakkan kaki di Garut dan wilayah sekitarnya. Dalam lawatan itu, ia didampingi Gubernur Jawa Barat saat itu dan menaruh perhatian khusus kepada para tawanan DI/TII serta ribuan warga yang mengungsi akibat konflik bersenjata.
Di hadapan para tawanan, Bung Hatta menyampaikan pesan perdamaian. Menurutnya, tidak ada manfaat mempertahankan permusuhan yang hanya menguras tenaga, korban jiwa, dan anggaran negara.
“Tak ada gunanya kita terus hidup dalam permusuhan yang akibatnya menelan biaya puluhan juta rupiah. Jumlah sebesar itu akan berguna sekali dalam pembangunan dan kemakmuran,” ujar Bung Hatta.
Pesan tersebut disambut oleh salah seorang perwakilan tawanan DI/TII yang, atas nama rekan-rekannya, menyatakan penyesalan, meminta maaf kepada pemerintah, serta berjanji akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila.
Usai mengunjungi para tawanan, rombongan melanjutkan perjalanan ke sejumlah lokasi pengungsian. Di sana, Bung Hatta menyaksikan langsung kondisi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat teror dan gangguan keamanan yang terjadi di desa-desa mereka.
Dalam kesempatan itu, Bung Hatta menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan hukum, rasa aman, serta kesempatan hidup yang sejahtera.
“Semua berhak atas perlindungan hukum, kebahagiaan, dan kemakmuran. Untuk itu pemerintah mengharapkan bantuan rakyat guna mengembalikan keamanan dan ketenteraman dalam masyarakat,” katanya.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kecamatan Malangbong, yang saat itu masih menjadi salah satu daerah paling terdampak konflik DI/TII. Wilayah tersebut pernah menjadi salah satu basis penting gerakan pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo sebelum ditinggalkan dalam operasi militer pemerintah.
Akibat strategi bumi hangus saat pasukan DI/TII mundur, sekitar 1.200 rumah dilaporkan hancur. Saat kunjungan Bung Hatta berlangsung, baru 62 rumah yang berhasil dibangun kembali, tujuh di antaranya didirikan oleh pemerintah.
Di tengah keterbatasan tersebut, kehidupan perlahan mulai bangkit. Sekolah-sekolah rakyat mulai didirikan kembali sebagai bagian dari upaya memulihkan kehidupan sosial masyarakat. Pemerintah berharap proses rehabilitasi dapat mempercepat kembalinya aktivitas warga seperti sediakala.
Kunjungan Bung Hatta ke Garut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah penanganan konflik DI/TII di Jawa Barat. Selain menunjukkan perhatian pemerintah terhadap korban perang, lawatan tersebut juga mencerminkan pendekatan yang tidak hanya mengedepankan operasi keamanan, tetapi juga rekonsiliasi, pemulihan masyarakat, dan pembangunan pascakonflik sebagai fondasi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan. (*)