Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
DasPublika.com

Das Publika

DasPublika.com

Das Publika

  • Home
  • Redaksi
    • Tantang Kami
  • Home
  • Redaksi
    • Tantang Kami
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
BookReview

Tiga Dekade T.U.T.A.B dan Riwayat Amuk Sunyi Punk Garut

By daspublika
August 20, 2026 3 Min Read
0

Daspublika.com – Ketika jemari kita membuka halaman demi halaman “T.U.T.A.B 30 Tahun Perjalanan Diamond City Punk Rockers”, kita tidak sedang berhadapan dengan sekadar tumpukan kertas biografi sebuah band lokal. Buku yang dirawat dan ditulis oleh Erwin Rustandi Widiagiri ini adalah sepotong jangkar waktu. Ia merenggut kita dari kenyamanan hari ini, melemparkannya kembali ke paruh akhir dekade 1990-an, sebuah masa ketika distorsi gitar berkecepatan tinggi melesat seperti anak panah, menabrak dinding-dinding tebal otoritarianisme Orde Baru yang mulai retak.

Lahirnya T.U.T.A.B pada tahun 1996 di bentang sunyi Kabupaten Garut bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Akhir era sembilan puluhan adalah lanskap sosial-politik yang gerah dan represif. Di bawah tatapan dingin rezim yang serba seragam, tubuh-tubuh muda dikurung dalam narasi tunggal yang patuh. Di kota kecil seperti Garut yang jaraknya terbentang dari gemuruh demonstrasi Jakarta atau Bandung, tekanan itu menjelma menjadi keheningan yang mencekam, dijaga oleh tatanan sosial yang kolot.

Di sela-sela kebuntuan itulah, subkultur punk menyusup bagai udara segar dari jendela yang dipaksa pecah. Bagi anak-anak muda “Kota Intan” kala itu, punk bukan sekadar perkara bergaya rambut mohawk atau menyematkan peniti pada jaket usang. Punk adalah katarsis. Melalui etika Do It Yourself (DIY), mereka menciptakan dunia mereka sendiri dari ketiadaan. Menggandakan selebaran pemberontakan dengan mesin fotokopi, menyablon kaos dengan jemari yang belepotan tinta, dan menyelipkan kaset demo lewat sindikasi bawah tanah. Itu adalah deklarasi perang senyap terhadap industri kebudayaan yang serba jinak.

Kegeraman kolektif ini menemukan altar sucinya pada ruang-ruang remang bernama underground gigs. Di Garut era itu, menggelar panggung musik adalah sebentuk keberanian yang bertaruh dengan nasib. Tanpa restu sponsor korporat dan selalu diintai moncong pembubaran oleh aparat keamanan, mereka patungan menyewa gedung serbaguna, bioskop tua yang sekarat, hingga sepetak lahan kosong di pinggiran kota. Pada ruang itu, sekat kelas dan latar belakang lebur seketika oleh peluh yang sama.

Di sana pula, sebuah ritual komunal yang magis digetarkan. Band tak pernah berjarak sebagai berhala di atas panggung; mereka berdiri sejajar, menyemburkan bait-bait kritik sosial yang pekat langsung ke wajah penontonnya tanpa barikade besi. Di bawah kepulan asap dan aroma keringat, lantai dansa bergolak oleh tubuh-tubuh yang saling berbenturan dalam ritual moshing, pogo, dan stage diving. Namun, di balik kebuasan fisik yang kerap disalahpahami mata awam, ada hukum cinta yang tak tertulis: ketika sebuah tubuh terjerembab di lantai yang licin, puluhan tangan dengan sigap akan merenggutnya kembali berdiri.

Denyut nadi punk Garut tidak berhenti saat ampli gitar dimatikan dan panggung dibongkar. Di luar ruang gigs, manifesto kemandirian itu menjelma dalam gerilya harian yang menghidupkan sudut-sudut kota. Kehidupan mereka adalah anyaman aktivitas yang sunyi dari publisitas.

Saat T.U.T.A.B menyematkan julukan “Diamond City Punk Rockers”, mereka sedang menulis ulang takdir Garut. Kota yang pernah disanjung karena keasrian dan ketenangannya yang berkilau bak intan, mendadak dipaksa menatap cermin yang retak, bahwa di sudut-sudut jalannya ada kemarahan yang jujur, ada suara bising yang menuntut ruang hidup di tengah krisis moneter dan penindasan yang mencekik.

Kini, tiga dekade telah mengalir dan lanskap zaman telah bersulih menjadi rimba digital yang serba instan. Namun, signifikansi literasi yang ditawarkan T.U.T.A.B justru menjelma menjadi tamparan keras bagi generasi hari ini. Di masa ketika ingatan manusia dengan mudahnya tersapu oleh algoritma media sosial yang fana, T.U.T.A.B memilih jalan sunyi literasi fisik. Mereka mengunci sejarah mereka sendiri dalam bentuk buku, sebelum ingatan itu diputarbalikkan atau menguap menjadi mitos yang keliru.

Langkah pengarsipan mandiri ini adalah bukti otentik bahwa api DIY dari rahim Orde Baru tidak pernah padam di tanah Garut, ia hanya mendewasa dengan anggun. Menulis buku adalah cara tertinggi sebuah subkultur merayakan kedaulatannya. T.U.T.A.B membuktikan bahwa punk di kota kecil mampu merawat memorinya sendiri secara terhormat dan merdeka.

Buku ini bukan sekadar lembaran masa lalu, melainkan sebuah monumen tertulis. Ia adalah kesaksian mutlak bahwa di sebuah sudut wilayah Priangan Timur, pernah dan masih ada kawanan anak muda yang menolak seragam, merawat keteguhan sikap sejak zaman tirani, dan berhasil menjaga api itu tetap membakar kegelapan hingga hari ini. (*)

*Penulis: Ahirudin Yunus – Pelaku Skena

Tags:

#ahirudinyunus#garut#punk#tigadekade#tutab
Author

daspublika

Follow Me
Other Articles
Previous

GARONG Dibedah di Maliré: Ketika Lagu Metal Membongkar Sistem

Next

Wanasari Agro Farm: Membangun Ekosistem Tani Perkotaan dari Lahan Terbatas

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Wanasari Agro Farm: Membangun Ekosistem Tani Perkotaan dari Lahan Terbatas
  • Tiga Dekade T.U.T.A.B dan Riwayat Amuk Sunyi Punk Garut
  • GARONG Dibedah di Maliré: Ketika Lagu Metal Membongkar Sistem
  • PBFI Jawa Barat: Memaknai Kemerdekaan Lewat Olahraga dan Prestasi
  • Warga Pasar Baru Garut Minta Revitalisasi PKL Ditinjau Ulang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026

Categories

  • Book
  • Cianjur
  • Garut
  • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Opini
  • Review
  • Siniar
  • Wisata
Copyright 2026 — DasPublika.com. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme