GARONG Dibedah di Maliré: Ketika Lagu Metal Membongkar Sistem
Garut, Daspublika.com — Sebuah lagu bisa selesai ketika durasinya habis. Tetapi tidak dengan “GARONG”. Single terbaru Voice of Baceprot (VoB) itu justru akan kembali “dimainkan” dalam bentuk lain: dibaca, dibedah, diperdebatkan, dan ditarik ke persoalan yang lebih besar dalam forum “MALIRÉ Present: Bedah Lirik Lagu GARONG by Voice of Baceprot”, Senin, 17 Agustus 2026.
Forum tersebut digelar mulai pukul 15.30 WIB sampai selesai di Toko Buku Maliré, Otista Korner Lantai 2, Garut.
Tidak ada kesan bahwa acara ini hendak menjadikan “GARONG” sekadar objek apresiasi musik. Tema yang diangkat justru cukup telanjang: membongkar sistem yang memelihara korupsi, kolusi, dan nepotisme melalui sebuah karya.
Dengan kata lain, lagu tidak ditempatkan di atas panggung. Ia dibawa ke meja bedah.
Ketika Lirik Tidak Lagi Cukup Didengar
“GARONG” merupakan karya terbaru VoB, trio metal asal Garut yang terdiri dari Marsya, Widi, dan Sitti.
Nama lagunya sendiri sudah mengandung benturan.
Garong identik dengan perampasan. Mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tetapi ketika kata tersebut ditempatkan dalam konteks korupsi, kolusi, dan nepotisme, maknanya menjadi jauh lebih luas.
Yang dirampas tidak selalu berbentuk uang. Bisa berupa hak. Kesempatan. Kepercayaan. Keadilan. Bahkan masa depan.
Di sinilah forum Maliré menjadi menarik. Sebab “GARONG” tidak hanya akan didengarkan sebagai musik, tetapi dibaca sebagai teks yang menyimpan kritik terhadap realitas sosial.
Apa yang sebenarnya hendak dikatakan VoB? Siapa yang sedang mereka kritik?
Dan yang paling penting: apakah persoalannya berhenti pada individu yang melakukan korupsi, atau ada sistem yang membuat praktik tersebut terus menemukan ruang?
Tiga Perspektif dalam Satu Meja
Bedah lirik ini menghadirkan tiga perspektif.
Ada Rofi Jaelani, jurnalis dan peneliti. Ada Akmal Firmansyah, jurnalis BandungBergerak. Dan tentu saja Voice of Baceprot sebagai pihak yang melahirkan karya tersebut.
Pertemuan tiga perspektif itu memungkinkan “GARONG” dibaca dari arah yang berbeda. Musisi berbicara tentang gagasan dan proses kreatif. Jurnalis membawa pengalaman membaca fakta dan realitas. Peneliti melihat persoalan dalam konteks yang lebih luas.
Dari situ, sebuah lagu bisa berubah menjadi pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada musik itu sendiri.
Garong dalam Sistem
Ada satu hal yang menarik dari tema “GARONG”.
Korupsi biasanya dibicarakan melalui angka: berapa uang yang hilang, berapa kerugian negara, berapa lama hukuman, dan siapa pelakunya.
Namun kritik sosial sering kali justru dimulai dari pertanyaan yang berbeda:
Mengapa hal itu bisa terus terjadi?
Ketika praktik penyalahgunaan kekuasaan berulang, masalahnya mungkin tidak lagi cukup dijelaskan sebagai perilaku orang per orang.
Ada budaya. Ada relasi kuasa. Ada celah. Ada kepentingan. Ada mekanisme yang membuat sesuatu yang seharusnya dianggap salah justru perlahan terlihat biasa.
Pada titik itulah istilah “garong” menjadi lebih dari sekadar sebutan kepada pelaku. Ia menjadi metafora tentang sebuah sistem yang memungkinkan hak publik terus diambil sedikit demi sedikit.
Ironi di Hari Kemerdekaan
Ada alasan lain mengapa acara ini terasa tepat digelar pada 17 Agustus 2026. Hari itu Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan. Di satu sisi, ada upacara, bendera, perayaan, dan berbagai narasi tentang perjuangan para pendahulu.
Di sisi lain, di sebuah toko buku di Garut, sekelompok orang memilih membicarakan korupsi, kolusi, nepotisme, dan sebuah lagu metal. Bukan kebetulan yang buruk.
Justru sebaliknya. Kemerdekaan juga membutuhkan ruang untuk bertanya. Apa arti merdeka jika hak masyarakat masih bisa dirampas? Apa arti pembangunan jika hasilnya tidak dirasakan secara merata? Apa arti demokrasi jika kepentingan publik dapat dikalahkan oleh kepentingan segelintir orang? Dan sampai kapan masyarakat harus menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang biasa?
“GARONG” mungkin tidak menawarkan jawaban atas semua pertanyaan itu. Tetapi musik tidak selalu harus menawarkan jawaban. Kadang tugasnya hanya satu: membuat orang berhenti sebentar dan bertanya.
Dari Garut, Metal dan Kegelisahan
VoB tumbuh dari Garut dan kemudian membawa musik mereka ke berbagai panggung, termasuk panggung internasional.
Namun semakin jauh mereka berjalan, kegelisahan yang dibawa tidak harus semakin jauh dari tempat asal. Justru sebaliknya.
Ada sesuatu dari daerah asal yang terus ikut bergerak bersama musik mereka: pengalaman hidup, ketimpangan yang dilihat, persoalan masyarakat, dan keberanian untuk mempertanyakan keadaan.
“GARONG” menjadi salah satu bentuk terbaru dari sikap tersebut. Dan ketika lagu itu kemudian dibedah di Garut, lingkarannya seperti kembali ke titik awal.
Dari Garut. Tentang persoalan yang melampaui Garut. Dan kembali dibicarakan di Garut.
Bukan Sekadar Diskusi
Menariknya, acara ini juga membawa agenda solidaritas untuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui penggalangan bantuan. Ini membuat acara tersebut tidak berhenti pada percakapan.
Ada gagasan bahwa kegelisahan seharusnya mempunyai konsekuensi sosial. Mendengar. Membicarakan. Kemudian melakukan sesuatu.
Barangkali itu pula yang membuat ruang seperti Maliré tetap penting bagi ekosistem bawah tanah: ia tidak membutuhkan panggung megah untuk membuat sebuah gagasan bergerak.
Cukup sebuah karya, beberapa orang yang mau berpikir, dan keberanian untuk membicarakan sesuatu yang tidak nyaman.
Senin sore hari ini, 17 Agustus 2026, “GARONG” akan dibongkar dari liriknya. Bukan untuk mencari tafsir paling benar. Melainkan untuk melihat lebih jauh apa yang tersembunyi di balik suara keras Voice of Baceprot.
Karena mungkin pertanyaan terbesar dari “GARONG” bukan sekadar siapa yang menggarong. Melainkan:
Bagaimana sebuah sistem bisa membuat tindakan menggarong terus berlangsung—dan mengapa kita membiarkannya menjadi biasa?. (*)