Mundur dari PORPROV, Atlet BMX Garut Justru Raih Juara di Bandung
DASPUBLIKA.COM, BANDUNG — Ada ironi dalam pembinaan olahraga Kabupaten Garut. Seorang atlet BMX Freestyle yang sebelumnya memutuskan mundur dari keikutsertaan Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) 2026 karena persoalan dukungan pembinaan, justru berhasil menorehkan prestasi di luar daerah.

Haekal Ahmad Fauzan, atlet BMX Freestyle asal Kabupaten Garut, berhasil meraih Juara 2 kategori Park Open dalam ajang Hobbies Fest Seri 2 Tahun 2026 yang berlangsung di Summarecon Mall Bandung.
Pencapaian tersebut bukan sekadar kabar tentang keberhasilan seorang atlet naik podium. Lebih dari itu, hasil yang diraih Haekal semestinya menjadi bahan refleksi bagi pengelola olahraga Kabupaten Garut, terutama terkait perhatian terhadap potensi atlet dan keberlanjutan pembinaannya.
Pasalnya, Haekal merupakan salah satu dari dua atlet BMX Freestyle Garut yang sebelumnya menyatakan mundur dari persiapan PORPROV 2026. Bersama Aditya Pratama dan pelatih Bayu Ningrat, ia memutuskan tidak melanjutkan keikutsertaan dalam ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.
Keputusan itu disampaikan melalui Asosiasi BMX Indonesia (ABI) Kabupaten Garut. Bayu Ningrat, yang juga menjabat Ketua ABI Garut, sebelumnya mengungkapkan sejumlah persoalan yang menghambat persiapan atlet, terutama terkait dukungan anggaran dan kebutuhan operasional latihan.
Atlet Berprestasi, Pembinaan Justru Menjadi Pertanyaan
Dalam keterangannya sebelumnya, Bayu menyebut kegiatan latihan selama persiapan PORPROV terpaksa mengandalkan dana swadaya atlet dan pelatih. Bahkan, tim harus menyewa peralatan dari provinsi lain untuk memenuhi kebutuhan latihan.
Persoalan lainnya mencakup insentif atlet dan pelatih yang disebut hanya sebesar Rp300 ribu per orang dan mengalami keterlambatan pencairan. Sementara biaya latihan, suplemen, serta perawatan sepeda belum tersedia secara memadai.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan yang melatarbelakangi keputusan pengunduran diri mereka.
Kini, keberhasilan Haekal meraih Juara 2 di Bandung menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah potensi atlet BMX Garut selama ini sudah mendapatkan perhatian dan dukungan pembinaan yang semestinya?
Prestasi di Hobbies Fest Seri 2 2026 menunjukkan bahwa Haekal memiliki kemampuan untuk bersaing dalam kompetisi. Capaian ini sekaligus menjadi indikasi bahwa potensi atlet BMX Freestyle Garut tidak bisa dipandang sebelah mata.
Namun, kemampuan seorang atlet tidak tumbuh hanya karena bakat. Ada latihan, kedisiplinan, pengalaman bertanding, kesiapan peralatan, dan dukungan pelatih yang membentuk kapasitas seorang atlet.
Ketika sebagian kebutuhan tersebut harus dipenuhi melalui swadaya, sementara dukungan pembinaan belum berjalan optimal, muncul persoalan yang tidak bisa begitu saja dibebankan kepada atlet dan pelatih.
KONI dan ISSI Garut Perlu Membaca Sinyal Ini
Keberhasilan Haekal semestinya menjadi momentum bagi KONI dan ISSI Kabupaten Garut untuk mengevaluasi pola pembinaan BMX Freestyle.
Jangan sampai perhatian terhadap atlet baru muncul ketika mereka berhasil membawa pulang medali, sementara kebutuhan selama proses latihan justru tidak mendapatkan perhatian yang sepadan.
KONI sebagai induk organisasi olahraga daerah memiliki peran strategis dalam membangun sistem pembinaan yang terencana. Sementara ISSI sebagai organisasi cabang olahraga memiliki tanggung jawab untuk memastikan pembinaan atlet berjalan secara berkelanjutan.
Keduanya perlu melihat prestasi Haekal bukan semata-mata sebagai keberhasilan individual, melainkan sebagai potensi daerah yang perlu dipetakan dan dikembangkan.
Apalagi, BMX Freestyle merupakan cabang olahraga yang membutuhkan dukungan peralatan khusus, fasilitas latihan, pemeliharaan sepeda, serta kesempatan mengikuti kompetisi untuk meningkatkan pengalaman dan kemampuan atlet.
Jika seluruh kebutuhan tersebut tidak diperhitungkan dalam perencanaan pembinaan, sulit berharap atlet dapat berkembang secara optimal.
Persoalannya bukan sekadar berapa besar insentif yang diberikan, melainkan bagaimana organisasi olahraga memastikan seluruh kebutuhan mendasar atlet dapat terpenuhi secara proporsional dan tepat waktu.
Jangan Hanya Menghitung Medali
Selama ini, keberhasilan olahraga daerah kerap diukur dari jumlah medali dan posisi dalam klasemen kompetisi. Padahal, prestasi merupakan hasil akhir dari proses panjang yang melibatkan atlet, pelatih, organisasi, fasilitas, dan dukungan pembiayaan.
Mengharapkan atlet berprestasi tanpa memastikan kebutuhan pembinaannya terpenuhi merupakan pendekatan yang tidak sehat bagi keberlanjutan olahraga daerah.
Kasus BMX Freestyle Garut memperlihatkan bahwa persoalan pembinaan tidak cukup diselesaikan dengan meminta atlet tetap berlatih dan mengejar target kompetisi. Harus ada kepastian mengenai dukungan yang diberikan, termasuk transparansi pengelolaan anggaran dan komunikasi antara organisasi olahraga dengan atlet serta pelatih.
Keberhasilan Haekal di Bandung seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Bukan justru membiarkan persoalan yang sebelumnya muncul berlalu tanpa evaluasi.
Tentu, satu capaian juara belum cukup untuk mengukur keseluruhan kualitas pembinaan BMX Freestyle Garut. Namun, prestasi tersebut memberikan alasan kuat bagi pemangku kepentingan untuk memberi perhatian lebih serius terhadap atlet yang memiliki potensi.
Jangan sampai daerah baru sibuk mencari atlet ketika kompetisi tiba, tetapi tidak cukup hadir ketika atlet membutuhkan dukungan untuk mempersiapkan diri.
Haekal telah menunjukkan kemampuannya di arena kompetisi. Ia berhasil membawa pulang Juara 2 dari Bandung. Sekarang, tantangannya bukan hanya bagaimana mempertahankan prestasi tersebut, tetapi juga bagaimana Kabupaten Garut mampu menyediakan ekosistem pembinaan yang memungkinkan potensi seperti Haekal terus berkembang.
Sebab, tugas pengelola olahraga bukan sekadar memberangkatkan atlet ke kompetisi dan menuntut medali. Tugas yang jauh lebih mendasar adalah memastikan atlet memiliki kesempatan, fasilitas, dan dukungan yang layak untuk berprestasi. (*)