Dari Medan Revolusi hingga Garut Hari Ini: Jejak Panjang PMI Menjaga Kemanusiaan
DasPublika.com – Ketika Indonesia baru berusia hitungan hari sebagai negara merdeka, para pendiri bangsa menyadari satu hal penting: kemerdekaan bukan hanya soal mempertahankan wilayah, tetapi juga menyelamatkan manusia.
Di tengah suasana revolusi yang penuh ketidakpastian, korban perang berjatuhan, fasilitas kesehatan terbatas, dan kebutuhan pertolongan kemanusiaan semakin besar. Dari kebutuhan itulah lahir sebuah organisasi yang kelak menjadi salah satu pilar kemanusiaan terbesar di Indonesia: Palang Merah Indonesia (PMI).
Tujuh belas hari setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk sebuah badan Palang Merah nasional. Pada 5 September 1945 dibentuk Panitia Lima yang terdiri dari dr. R. Mochtar, dr. Bahder Djohan, dr. Djuhana, dr. Marzuki, dan dr. Sitanala. Hasil kerja panitia tersebut melahirkan Palang Merah Indonesia pada 17 September 1945 dengan Mohammad Hatta sebagai ketua pertama.
Namun sejarah PMI sebenarnya lebih panjang dari usia republik.
Jauh sebelum kemerdekaan, pada era Hindia Belanda telah berdiri organisasi kepalangmerahan bernama Nederlands-Indische Rode Kruis (NIRK). Pada dekade 1930-an, sejumlah tokoh pergerakan seperti dr. R.C.L. Senduk dan Bahder Djohan telah menggagas pembentukan Palang Merah Indonesia, tetapi usulan tersebut ditolak pemerintah kolonial. Gagasan itu baru dapat diwujudkan setelah Indonesia merdeka.
Sejak awal berdirinya, PMI langsung bekerja di garis depan revolusi. Organisasi ini membantu korban perang kemerdekaan, evakuasi warga sipil, pelayanan kesehatan darurat, hingga pengembalian tawanan perang. Dedikasi tersebut membuat PMI memperoleh pengakuan internasional dari International Committee of the Red Cross (ICRC) pada tahun 1950 dan diterima sebagai anggota Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah pada tahun yang sama.
Seiring berjalannya waktu, peran PMI berkembang jauh melampaui penanganan korban perang. Organisasi ini menjadi garda terdepan dalam pelayanan donor darah, penanggulangan bencana, pendidikan relawan, pelayanan kesehatan masyarakat, hingga berbagai misi kemanusiaan di dalam dan luar negeri.
Jawa Barat: Lahir Sebelum PMI Nasional
Menariknya, sejarah kepalangmerahan di Jawa Barat bahkan dimulai lebih awal daripada terbentuknya PMI secara nasional.
Pada 9 September 1945, atau delapan hari sebelum PMI resmi berdiri, dr. Djoendjoenan yang menjabat Kepala Jawatan Kesehatan Kotapraja Bandung membentuk Palang Merah Bandung. Organisasi lokal ini lahir sebagai respons terhadap situasi darurat pasca-kemerdekaan dan menjadi cikal bakal PMI Jawa Barat.
Ketika Bandung dan Jawa Barat menjadi salah satu pusat pertempuran mempertahankan kemerdekaan, para relawan Palang Merah terlibat dalam pelayanan medis, evakuasi korban, hingga mendukung rumah sakit-rumah sakit yang menangani korban perang. Di tengah agresi militer Belanda dan pergolakan revolusi, jaringan kemanusiaan tersebut terus berkembang hingga menjadi PMI Daerah Jawa Barat yang dikenal saat ini.
Dari Bandung, semangat kemanusiaan kemudian menyebar ke berbagai kabupaten dan kota, termasuk Garut.
PMI Garut dan Tradisi Kemanusiaan di Kota Intan
Di Kabupaten Garut, PMI tumbuh menjadi salah satu organisasi kemanusiaan yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Posisi geografis Garut yang rentan terhadap berbagai bencana alam membuat keberadaan PMI menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan. Mulai dari banjir bandang, longsor, gempa bumi, hingga kebakaran, relawan PMI hampir selalu menjadi kelompok pertama yang hadir membantu masyarakat terdampak.
Tidak hanya dalam situasi bencana, PMI Garut juga menjadi tulang punggung pelayanan donor darah bagi puluhan rumah sakit dan fasilitas kesehatan di wilayah Garut. Setiap hari, Unit Donor Darah PMI Garut memastikan ketersediaan darah bagi pasien operasi, korban kecelakaan, ibu melahirkan, hingga penyintas thalasemia yang membutuhkan transfusi rutin.
Kehadiran PMI sering kali tidak terlihat ketika keadaan normal. Namun saat masyarakat menghadapi situasi kritis, keberadaannya menjadi sangat nyata.
Di balik setiap kantong darah yang tersalurkan, setiap ambulans yang bergerak, dan setiap bantuan yang sampai ke lokasi bencana, terdapat jaringan relawan dan pengurus yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Era Kepemimpinan Helmi Budiman
Dalam beberapa tahun terakhir, PMI Kabupaten Garut dipimpin oleh dr. Helmi Budiman. Pada Musyawarah Kabupaten PMI tahun 2022, ia kembali dipercaya memimpin PMI Kabupaten Garut untuk periode 2022–2027.
Di bawah kepemimpinannya, PMI Garut terus memperkuat pelayanan donor darah, memperluas pengembangan organisasi hingga tingkat kecamatan, serta meningkatkan kualitas pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat. Salah satu fokus penting adalah penguatan Unit Donor Darah agar mampu memenuhi standar pelayanan yang semakin tinggi. Upaya tersebut terlihat dari proses akreditasi Unit Donor Darah PMI Garut menuju tingkat paripurna.
Bagi Helmi Budiman, donor darah bukan sekadar program rutin organisasi. Ia berulang kali menekankan bahwa donor darah harus menjadi gaya hidup masyarakat.
Pandangan tersebut lahir dari realitas sederhana: darah tidak dapat diproduksi oleh mesin, tidak dapat dibuat di laboratorium, dan tidak dapat dibeli ketika stok kosong. Darah hanya dapat diberikan oleh manusia kepada manusia lainnya.
Karena itu, keberlangsungan pelayanan PMI sangat bergantung pada tumbuhnya kesadaran publik untuk menjadi pendonor sukarela secara rutin.
Menjaga Semangat yang Sama
Selama lebih dari delapan dekade, PMI telah melewati berbagai zaman.
Dari masa revolusi kemerdekaan, pergolakan politik, bencana alam, pandemi, hingga era digital hari ini, satu hal yang tidak pernah berubah adalah misinya: kemanusiaan.
Di Indonesia, di Jawa Barat, dan di Garut, PMI terus bergerak dengan prinsip yang sama seperti saat pertama kali didirikan pada September 1945. Menolong tanpa membedakan latar belakang, membantu tanpa mengharapkan imbalan, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Di balik setiap tetes darah yang didonorkan, setiap relawan yang bertugas, dan setiap bantuan yang diberikan, sesungguhnya terdapat warisan panjang sejarah kemanusiaan yang terus hidup hingga hari ini.
Dan di Garut, sejarah itu masih terus ditulis. (*)
Artikel tayang sebelumnya di eksplorindonesia.com.