Daspublika.com — Di dalam gang sempit di sudut Kota Garut, ada warung kopi tua bernama IPO Morning yang tidak punya papan nama besar. Orang menemukannya dari mulut ke mulut, atau dengan sedikit keberuntungan setelah tersesat di antara toko buah dan fotokopi. Di dalamnya, bapak-bapak duduk berhimpitan di bangku panjang, asap rokok menggantung tebal, dan kopi hitam diseduh lalu dituang ke gelas kecil tanpa banyak seremoni. Tidak ada latte art, tidak ada menu bahasa Inggris, tidak ada WiFi. Yang ada hanya obrolan, suara kartu, dan kopi Garut yang pekat seperti malam.
Warung seperti IPO Morning adalah bukti bahwa budaya ngopi di Garut bukan fenomena baru yang tumbuh karena tren media sosial. Ia sudah ada jauh sebelum kata “specialty coffee” masuk ke kamus konsumen Indonesia — berakar di iklim dingin pegunungan yang membuat orang hampir wajib mencari kehangatan, dan berakar lebih dalam lagi di tanah yang ternyata sangat cocok untuk tumbuhnya biji kopi kualitas tinggi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dalam publikasi Jawa Barat Dalam Angka 2024, produksi kopi Kabupaten Garut pada tahun 2023 mencapai 6.499 ton, menempatkannya di posisi ketiga terbesar se-Jawa Barat setelah Kabupaten Bandung dan Bogor. Lahan perkebunan kopinya mencapai lebih dari 6.500 hektare, tersebar di 20 kecamatan, dengan kantong-kantong utama di Cikajang, Pakenjeng, Cisurupan, dan Pamulihan. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Haeruman, menyebut bahwa hampir setiap tahun seluruh hasil panen habis diserap pasar, termasuk oleh pembeli dari luar daerah. “Tiap tahun panen kita habis diambil oleh pihak luar, salah satunya Medan,” katanya awal 2024, “karena kopi Garut ini mempunyai cita rasa dan aroma yang khas.”
Pernyataan itu bukan klaim kosong. Arabika yang tumbuh di ketinggian lereng Papandayan dan perbukitan Garut Selatan sudah lama diminati pasar nasional dan mulai menembus pasar internasional. Yang belum terselesaikan adalah pertanyaan yang lebih fundamental: untuk siapa, dan dengan cara apa?
Warung Lama, Kedai Baru
Di sisi lain kota, Koffie Talkie di Jalan Siliwangi Pakuwon menawarkan pengalaman yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari IPO Morning. Interior minimalis, dua lantai, kursi nyaman, barista muda yang fasih bicara tentang ekstraksi dan single origin. Setiap minggu, menurut roaster-nya Dikdik Ahmadi, kedai ini mengganti lima jenis kopi regional. Di sini, anak muda Garut dan wisatawan dari Bandung atau Jakarta duduk berjam-jam sambil membuka laptop atau mengambil foto untuk Instagram.
Dua tempat ini bukan pertentangan — mereka adalah dua lapis dari ekosistem yang sama, dan keduanya tumbuh. Pikiran Rakyat Garut mencatat lebih dari 20 nama kedai kopi aktif di berbagai sudut kabupaten pada akhir 2024, dari yang menyasar kawula muda di pusat kota hingga yang berkonsep outdoor di kawasan Cisurupan, dekat jalur pendakian Papandayan. Beli Kopi, jaringan kedai kopi terjangkau dengan harga mulai Rp7.000, baru saja membuka cabang di Garut pada Juni 2025 dan langsung ramai. “Buat Gen Z sekarang, ngopi itu semacam kewajiban,” kata Kaysa Fadila Yasmin, barista kedai tersebut, saat ditemui Juli lalu.
Angka nasional mendukung gambaran ini. Asosiasi Pengusaha Kopi dan Cokelat Indonesia (APKCI) mencatat jumlah kedai kopi di seluruh Indonesia mencapai sekitar 10.000 gerai pada 2025, naik drastis dari 3.500–4.000 gerai pada 2020. Kopi Janji Jiwa beroperasi di lebih dari 900 outlet dengan 100 persen pasokan biji dari petani Nusantara. Tren specialty dan single origin terus menguat, mendorong konsumen untuk lebih sadar tentang asal biji yang mereka minum — dan dalam konteks itu, nama Garut semakin sering disebut.
Namun di sela ledakan konsumsi itu, ada celah yang belum tertutup. Sebagian besar kopi Garut masih dijual sebagai green bean mentah, dibeli tengkulak atau pengepul luar daerah tanpa pengolahan berarti. Nilai tambahnya, dan keuntungannya, pergi bersama truk-truk yang meninggalkan lereng Garut setiap musim panen.
Masalah yang Sudah Lama Diketahui
Helmi Budiman, merumuskannya dengan jelas saat mencanangkan Gerakan Penanaman Kopi 2024 di Kecamatan Sukaresmi, Januari tahun lalu. Target tahun itu: 770.000 pohon kopi baru di enam kecamatan. Jenis yang dipilih arabika, karena permintaan pasar tinggi, termasuk untuk ekspor. “Harapan kami petani kopi kita sudah bagus secara budidaya, tapi yang harus ditingkatkan aspek kelembagaannya,” ujarnya, “sehingga para petani kopi itu bersatu memajukan kopi Garut.”
Kata “kelembagaan” yang disebut Helmi bukan jargon birokrasi semata. Di tingkat nasional, Kementerian Pertanian sendiri mengakui bahwa pengembangan kopi Indonesia terbentur beberapa hambatan struktural: tanaman tua dan rusak yang belum sepenuhnya diremajakan, standarisasi populasi yang minim, pengelolaan yang belum intensif, dan — yang paling kritis — kelembagaan petani yang masih lemah. Akibatnya, produktivitas kopi Indonesia rata-rata hanya sekitar 0,77 ton per hektare, padahal kapasitas lahannya bisa mencapai tiga ton. Garut menghadapi versi lokal dari masalah yang sama: produksi terus naik, tetapi posisi tawar petani terhadap rantai distribusi masih rapuh.
Penelitian peremajaan tanaman kopi di Kabupaten Garut yang dipublikasikan dalam Mimbar Agribisnis (2024) menggunakan pendekatan Policy Analysis Matrix untuk mengevaluasi program pemerintah, dan hasilnya menunjukkan bahwa intervensi teknis saja tidak cukup tanpa penguatan kelembagaan yang menyertainya. Petani yang tidak terorganisasi cenderung menjual di harga paling rendah, pada waktu yang paling tidak menguntungkan, kepada pembeli yang punya informasi lebih banyak.
Cikajang: Bukti Bahwa Bisa Berbeda
Di Kecamatan Cikajang, ada cerita yang berbeda arahnya — meski datang dari titik yang sama sulitnya.
Sejak 2017, program Desa Sejahtera Astra hadir di sana dengan pendampingan teknis: standar budidaya, fasilitas solar dryer, pengolahan buah kopi menjadi green beans dan roasted beans, serta yang paling krusial — pembentukan koperasi mandiri. Bernard Suryanto Langoday, penggerak lokal yang disebut Astra sebagai coffee sociopreneur, menggerakkan lebih dari 4.000 warga dalam ekosistem kopi dari hulu ke hilir.
Hasilnya terukur. Media Indonesia dan Detik melaporkan pada Desember 2025 bahwa rata-rata pendapatan keluarga petani di Cikajang naik dari sekitar Rp1,3 juta per bulan menjadi Rp3,7 juta, dengan sebagian keluarga mencatat lebih dari Rp4,5 juta. Kopi arabika Cikajang kini diekspor ke Eropa, Dubai, Mesir, Singapura, dan Thailand. Sebelumnya, kemitraan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan IPB berhasil mengantarkan pengiriman kopi Garut ke Belanda senilai Rp4 miliar — pelepasan ekspor yang saat itu dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat.
“Astra percaya bahwa kemandirian desa dapat tumbuh ketika masyarakat memiliki kapasitas, akses, dan kesempatan untuk berkembang,” ujar Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, dalam keterangannya Desember 2025.
Koperasi yang terbentuk di Cikajang bukan sekadar wadah administrasi. Ia mengubah posisi petani dari penjual pasif menjadi aktor yang punya standar mutu, akses pembeli langsung, dan kemampuan memotong tengkulak dari rantai distribusi. Ini persis yang dimaksud Helmi Budiman ketika berbicara soal kelembagaan — dan Cikajang membuktikan bahwa itu bisa dikerjakan, meski butuh bertahun-tahun dan tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak saja.
Konteks yang Lebih Besar
Pemerintah pusat sedang mendorong hilirisasi komoditas perkebunan sebagai agenda besar. Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran biaya tambahan sekitar Rp10 triliun pada 2025 dengan sasaran yang termasuk kopi, kakao, dan kelapa. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berulang kali menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi sekadar mengekspor produk mentah. Kopi Garut, dengan reputasi citarasa arabikanya yang sudah diakui pembeli internasional, sebenarnya berada di posisi yang tepat untuk ikut dalam gelombang ini — asalkan infrastruktur kelembagaan petaninya siap.
Di tingkat global, Indonesia masih produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan kontribusi hampir delapan persen dari produksi kopi global. Tapi nilai ekspor yang diterima belum sebanding dengan volume itu, karena sebagian besar masih dalam bentuk bahan mentah. Negara-negara kompetitor seperti Vietnam sudah lebih jauh melangkah ke pengolahan dan branding.
Di Garut, produksi kopi diproyeksikan mencapai 3.600 ton pada 2025, naik sekitar 13 persen dari tahun sebelumnya, dengan lahan yang terus bertambah dan 770.000 pohon baru yang ditanam sejak awal 2024. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bahkan menyempatkan diri mengunjungi kelompok tani agroforestri di Desa Rancasalak, Kadungora, pada Mei 2025 — sinyal bahwa kopi Garut sudah cukup diperhitungkan untuk mendapat perhatian level menteri.
Tapi antara sinyal perhatian dan perubahan nyata di tingkat petani, jarak itu masih ada.
Adam Maulana Heryawan, 29 tahun, petani muda dari Kecamatan Banyuresmi yang berhasil menumbuhkan arabika di dataran rendah lewat brand Sebungkus.id, adalah satu dari sedikit kisah inovasi yang muncul dari inisiatif individu, bukan dari program pemerintah. Komunitas adat Batuwangi di Desa Dangiang, Banjarwangi, yang mulai memproduksi arabika dan robusta sejak 2020 melalui BUMMA Simahiyang, berjalan dengan cara sendiri — memanfaatkan kekayaan tanah leluhur tanpa menunggu anggaran turun dari dinas.
Di IPO Morning, sore berganti malam tanpa tergesa. Orang datang dan pergi, gelas kopi berganti. Dari gang sempit itu, tidak ada yang terlalu memikirkan rantai nilai global atau proyeksi ekspor 2026. Tapi mereka tahu satu hal yang sudah lama benar sebelum ada barista bersertifikat: kopi Garut itu enak, dan orang akan selalu kembali untuk secangkir lagi.
Yang belum selesai dijawab adalah siapa yang paling diuntungkan dari kenyataan itu — petani di lereng Cikajang, pengepul di jalur distribusi, atau konsumen di kafe-kafe kota yang memesan single origin tanpa tahu nama desa asalnya. (*)
Laporan ini disusun berdasarkan data BPS Jawa Barat Dalam Angka 2024, laporan Pemkab Garut, Perhutani, PRFM News, Media Indonesia, Detik, Antara, dan wawancara yang dikutip dari berbagai media terpercaya.