Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
DasPublika.com

Das Publika

DasPublika.com

Das Publika

  • Home
  • Redaksi
    • Tantang Kami
  • Home
  • Redaksi
    • Tantang Kami
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
ReviewSiniar

Bukan Cuma Perang, Dandim Garut Bicara tentang TNI dan Rakyat

By daspublika
August 14, 2026 5 Min Read
0

Daspublika.com — Ada percakapan yang terasa berbeda ketika seorang tentara tidak sedang berbicara di podium, tidak sedang memberikan amanat upacara, dan tidak pula berdiri dalam suasana seremonial. Seragam tetap melekat, tetapi pembicaraan mengalir lebih cair. Pertanyaan datang silih berganti, sesekali menyentil, lalu melebar ke berbagai persoalan yang jauh dari bayangan tentang perang.

Suasana seperti itulah yang muncul dalam siniar “Obrolan” yang dipandu Bolan bersama Komandan Kodim 0611/Garut, Letkol Inf Fahrisal Efendi Sinaga, S.I.P.

Bolan tidak menempatkan percakapan itu semata-mata sebagai wawancara formal seorang pejabat militer. Ia membawa pembicaraan ke wilayah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: tentang rakyat, desa, persoalan sosial, pembangunan, dan bagaimana seorang prajurit melihat masyarakat yang menjadi bagian dari wilayah tugasnya.

Dari sana percakapan kemudian berkembang.

Tentang TNI, misalnya. Selama ini institusi tersebut lebih mudah dibayangkan melalui kata-kata seperti pertahanan, keamanan, senjata dan perang. Tetapi ketika Bolan membawa Fahrisal berbicara lebih jauh mengenai tugas kewilayahan, gambaran itu menjadi lebih luas.

Fahrisal mencoba menjelaskan bahwa seorang prajurit yang bertugas di wilayah teritorial tidak hidup di ruang yang terpisah dari masyarakat. Justru sebaliknya. Setiap hari mereka berhadapan dengan masyarakat dan berbagai persoalan yang muncul dari kehidupan warga.

Di sinilah pembicaraan Bolan dan Fahrisal menjadi menarik. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Bolan seperti berusaha membongkar lapisan formal seorang komandan satuan. Apa sebenarnya yang dilakukan TNI ketika tidak sedang menghadapi perang? Seberapa jauh prajurit bersentuhan dengan persoalan masyarakat? Dan seperti apa makna “TNI untuk rakyat” jika diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari?

Fahrisal menjawabnya dari perspektif seorang prajurit yang kini memimpin Kodim 0611/Garut.

Bagi satuan teritorial, masyarakat bukan sekadar objek yang berada di luar pagar markas. Masyarakat merupakan bagian dari wilayah yang harus dikenal, dipahami dan dijaga. Karena itu, pekerjaan prajurit di lapangan dapat bersentuhan dengan berbagai persoalan yang mungkin pada awalnya tidak terlihat sebagai persoalan militer.

Bolan kemudian membawa percakapan pada contoh-contoh konkret.

Salah satunya adalah pembangunan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat. Sebuah jembatan, misalnya, mungkin tampak sebagai bangunan sederhana. Tetapi bagi warga yang setiap hari melewatinya, keberadaan jembatan dapat menentukan kelancaran aktivitas mereka. Anak-anak dapat berangkat sekolah dengan lebih mudah, petani dapat membawa hasil kebun, dan hubungan antarkampung tidak lagi terhambat oleh kondisi geografis.

Dari sebuah jembatan, pembicaraan seolah bergerak ke makna yang lebih besar: bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang spektakuler.

Kadang ia hadir dalam pekerjaan yang sangat sederhana.

Membangun. Memperbaiki. Mengangkat. Mengangkut. Datang ke lokasi. Berbicara dengan warga. Atau sekadar memastikan persoalan yang dihadapi masyarakat diketahui dan dicarikan jalan keluarnya.

Bolan juga membawa pembicaraan pada sisi sosial dari kehidupan prajurit. Di luar tugas pertahanan, ada ruang yang mempertemukan TNI dengan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian. Kegiatan sosial, kunjungan ke panti asuhan dan berbagai bentuk kepedulian kemanusiaan menjadi bagian dari wajah lain kehidupan prajurit yang jarang muncul ketika TNI hanya dibicarakan dalam konteks peperangan.

Percakapan itu kemudian terasa seperti membuka jendela lain untuk melihat tentara.

Ada manusia di balik seragam.

Ada prajurit yang hidup di tengah masyarakat, bertemu petani, berbicara dengan tokoh masyarakat, berhadapan dengan anak-anak muda, mendatangi desa, dan melihat langsung berbagai persoalan yang mungkin tidak pernah muncul dalam laporan-laporan formal.

Dalam struktur kewilayahan TNI, hubungan tersebut salah satunya dijalankan melalui Babinsa. Mereka adalah prajurit yang berada paling dekat dengan masyarakat di tingkat desa. Dari interaksi semacam itulah berbagai informasi mengenai kondisi wilayah, persoalan sosial maupun kebutuhan masyarakat dapat diketahui.

Fahrisal sendiri baru memimpin Kodim 0611/Garut sejak awal Juli 2026. Ia menerima tongkat komando dari Letkol Inf Andrik Fachrizal dalam serah terima jabatan pada 2 Juli 2026. Sebelumnya, Fahrisal bertugas sebagai Dandeninteldam III/Siliwangi. Dalam momentum pergantian kepemimpinan tersebut, Danrem 062/Tarumanagara menekankan pentingnya pembinaan teritorial dan penguatan kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Posisi itu membuat percakapan Bolan menjadi relevan. Sebab memimpin satuan kewilayahan seperti Kodim 0611/Garut berarti berhadapan dengan wilayah yang luas, karakter masyarakat yang beragam, serta persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan keamanan.

Ada persoalan sosial. Ada lingkungan. Ada pertanian. Ada kepemudaan. Ada kebencanaan. Ada pembangunan desa. Ada pula berbagai persoalan keseharian yang membutuhkan komunikasi lintas sektor.

Dan di situlah seorang Dandim dituntut tidak hanya mampu memberikan komando, tetapi juga mampu membaca wilayah.

Bolan tampaknya menyadari hal tersebut. Karena itu percakapan dalam siniar “Obrolan” tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apa yang dilakukan TNI. Percakapan bergerak lebih jauh pada bagaimana TNI menempatkan dirinya di tengah masyarakat.

Sebab istilah “TNI untuk rakyat” akan menjadi slogan kosong apabila tidak menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.

Bentuk itu bisa berupa kegiatan pembangunan. Bisa berupa kepedulian sosial. Bisa pula berupa kehadiran seorang Babinsa ketika warga menghadapi persoalan. Bahkan komunikasi sederhana antara prajurit dengan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan tersebut.

Dalam beberapa kesempatan setelah menjabat sebagai Dandim, Fahrisal juga melakukan komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat Garut.

Salah satunya melalui pertemuan dengan Abenk Marco di Samarang yang membicarakan persoalan pengelolaan sampah dan peluang kolaborasi untuk kepentingan masyarakat.

Gambaran itu memperkuat kesan yang muncul dari percakapan bersama Bolan: bahwa ruang kerja seorang komandan teritorial tidak hanya berada di dalam markas.

Sebagian pekerjaannya justru berlangsung di luar sana.

Di jalan desa. Di tengah masyarakat. Di lokasi pembangunan. Di lingkungan warga. Di tempat-tempat yang mungkin tidak memiliki hubungan langsung dengan bayangan tentang dunia militer, tetapi justru menjadi ruang tempat seorang prajurit menjalankan pengabdian.

Pada satu titik, percakapan tersebut membawa kita kembali pada pertanyaan paling sederhana: untuk apa tentara berada di tengah rakyat?

Jawabannya tidak selalu harus ditemukan dalam situasi perang.

Ketika sebuah jembatan dibangun dan membuat warga lebih mudah bergerak, ketika sebuah kegiatan sosial memberi perhatian kepada mereka yang membutuhkan, ketika seorang Babinsa hadir mendengar persoalan warga, atau ketika seorang komandan membuka ruang komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat, di sanalah makna kehadiran tersebut dapat dirasakan.

Perang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa sebuah negara membutuhkan tentara. Tetapi kehidupan sebuah negara berlangsung jauh lebih panjang daripada perang.

Dan di sepanjang waktu itulah tentara hidup bersama rakyat.

Percakapan Bolan dengan Fahrisal pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang TNI. Ia berbicara tentang jarak antara institusi negara dengan masyarakat, tentang bagaimana jarak itu dapat diperkecil melalui kehadiran, komunikasi dan kerja bersama.

Seragam boleh menjadi identitas.

Pangkat boleh menjadi hierarki.

Tetapi ketika seorang prajurit turun ke tengah masyarakat, semua itu pada akhirnya berhadapan dengan persoalan yang sama: bagaimana membuat kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh rakyat.

Karena TNI untuk rakyat tidak selalu berarti berada di medan perang. Kadang ia berarti hadir di tempat rakyat sedang membutuhkan. (*)

Simak obrolannya di:

Tags:

#bolan#dandimgarut#fahrisaleffendisinaga#obrolan#siniar
Author

daspublika

Follow Me
Other Articles
Previous

Ketika Jalan Berbatu Menjadi Cara Membaca Garut

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Bukan Cuma Perang, Dandim Garut Bicara tentang TNI dan Rakyat
  • Ketika Jalan Berbatu Menjadi Cara Membaca Garut
  • Petani Cikalongkulon Cianjur Dukung Batalyon, Tolak Lahan Garapan Jadi Lokasi
  • Revitalisasi Pasar Baru Garut Dipertanyakan Warga, Awning Baru Ikut Dibongkar
  • Speak Up Tanpa Takut: Ketika Kampus Harus Benar-Benar Menjadi Ruang Aman

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026

Categories

  • Cianjur
  • Garut
  • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Opini
  • Review
  • Siniar
  • Wisata
Copyright 2026 — DasPublika.com. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme